Minggu, 21 Juli 2019

Menyongsong Terbitnya Matahari di Puncak Bukit Aua Sarumpun.



Matahari terbit maupun terbenam, selalu menarik minat para fotografer. Apakah itu para pemula, ataupun mereka yang sudah malang melintang di dunia fotografi, apalagi kalau dia juga berprofesi sebagai blogger yang suka berpetualang atau traveller.

Hal ini pulalah yang saya dapatkan saat saya dapat kesempatan pulang mendadak 17 Juni Lalu. Kesempatan ini saya juga dapatkan dalam kurun waktu yang sempit sebelum saya kembali ke Jakarta pada hari yang sama.

Semua bermula ketika malamnya keponakan istri datang ke rumah kakak ipar tertua, dimana saya menginap sebelum hari keberangkatan kembali ke Jakarta. Saat ngobrol menjelang tidur itulah saya menanyakan kepada sang keponakan, apakah dia mau mengantar saya ke puncak bukit Aua Sarumpun besok setelah subuh.

Tanpa berpikir panjang lagi dia langsung menjawab mau. Membuat semangat saya yang sebelumnya kendor dan agak sedikit kecewa, karena tidak sempat mengabadikan Luak Gadang dan Bukik Baka, sebuah destinasi wisata baru yang justru berada di kampung saya sendiri.

Begitu selesai shalat subuh, saya langsung menelpon sang keponakan bernama Ery tersebut. Entah tidak tidur semalaman, atau benar-benar baru bangun, Ery langsung menjawab telepon saya dan mengatakan siap, lalu segera turun menjemput saya dari rumahnya yang berada di bukit Kubang, sekitar 2 kilometer dari rumah kakak ipar, yang tidak begitu jauh dari pinggir Danau Singkarak.

Hanya berselang sekitar 10 menit, Ery tiba di halaman rumah. Karena sudah siap, saya pun langsung naik ke boncengan motor dia, lalu langsung cabut menembus gelapnya subuh melewati jalan mendaki bukit Desa Pasir Jaya yang berkelok berliku dan cukup curam di beberapa tempat, sebelum masuk ke dalam kampuung Nagari Padang Luar, menuju Puncak Aua Sarumpun, yang jaraknya sekitar 6 kilometer dari rumah tempat kami berangkat.

Mendaki Bukit Panjang mulai dari Desa Siturah, sepeda motor kami memecah kesunyian pagi yang dingin. Untunglah saya sudah membekali diri dengan jaket, sehingga dingin tersebut masih bisa sedikit tertahan.

Saat sampai di lapangan parkir yang cukup luas yang di sebagian pinggirnya berdiri warung kopi, tidak jauh dari puncak, kami mendapat laporan, sudah ada pasangan muda yang telah duluan naik ke puncak untuk menikmati terbitnya matahari pagi. Benar saja, saat kami menyusul ke atas keduanya sudah mencarter bangku kayu yang menghadap ke arah terbitnya matahari. Tapi saya tidak mempedulikan hal itu, kami saya juga sudah punya missi sendiri dan tidak membutuhkan bangku tersebut.

Saya mengeluarkan kamera dari dalam tas, begitu juga handphone untuk megambil gambar video. Walau cahaya masih temaram, namun pemandangan selepas subuh tersebut membersitkan rasa yang sulit diungkapkan. Bukit barisan yang berdiri berlapis-lapis, yang sebagian puncaknya tertutup awan putih, cahaya matahari yang baru mengintip di ufuk timur, membuat tangan saya sulit untuk dihentikan untuk menekan tombol kamera.

Baiklah, kita nikmati saja foto-foto yang berhasil saya abadikan ini.
 



 Walau jam sudah menunjukkan pukul 06.41, namun matahari masih bermalasan
untuk memperlihatkan diri ke permukaan. Dia masih bersembunyi di balik ufuk.


 Danau Singkarak yang tenang, di keremangan pagi.