Rabu, 08 Juni 2016

Fill In Flash atau Lampu Pengisi Dalam Pemotretan Melawan Cahaya

Bagi anda yang suka berburu foto atau photo hunting, jangan pernah melupakan lampu kilat di dalam tas perlengkapan fotografi anda. Walaupun acara berburu foto itu dilakukan pada siang hari yang terang benderang. Karena, tidak selamanya dalam acara berburu foto itu anda berada pada posisi membelakangi atau menyampingi cahaya. Mungkin saja pada suatu saat anda harus menantang cahaya.

Ada orang yang mengatakan bahwa pemotretan menantang cahaya itu adalah tabu dan tak boleh dilanggar. Bagi fotografer pemula pantangan itu sering disikapi dengan penuh kepatuhan, sehingga sering mereka kehilangan momen yang menakjubkan hanya karena kepatuhan yang fanatik buta tersebut.

Bagi fotografer berpengalaman atau bagi mereka yang suka bereksperimen dan menyukai tantangan, memotret dengan menantang cahaya itu bukanlah sesuatu yang menakutkan, bahkan banyak momen-momen indah berhasil mereka tangkap dan disajikan kepada kita sebagai penikmat fotografi.

Foto 1.

Sebagai sebuah contoh praktek fill in flash ini dapat kita lihat pada foto 1, diatas. Foto ini diambil di kamar hotel Ciputra Simpang Lima, Semarang. Pada foto sebelah kiri terlihat foto rekan Teddy Rustandi diambil dengan latarbelakang pada pencahayaan normal, sementara subyek di latar depan terlihat gelap. Pada foto kanan subyek di latar depan dibantu dengan lampu pengisi atau fill in flash, sehingga kelihatan subyek di latar depan terlihat jelas, sementara latar belakangnya tetap dalam keadaan normal.
Foto 2.

Foto 2 memperlihatkan bila pemotretan dilakukan dengan pengukuran cahaya pada subjek di latar depan, maka hasilnya latar belakang akan tercahayai lebih atau over exposure dan kelihatan putih. Sehingga kita tidak bisa menyaksikan latar belakang yang sebenarnya mendukung keindahan foto yang kita abadikan.

Pada foto 3 dan 4 di bawah kita bisa menyaksikan hasil pemotretan dengan memanfaatkan fill in flash dan yang tidak, saat saya mengabadikan rekan Teddy Rustandi di lapangan Simpang Lima, Semarang. Dengan latar belakang Hotel Ciputra, disaat menikmati hangatnya matahari pagi. Bayangan pohon memperlihatkan jelas dari arah mana datangnya cahaya matahari pagi itu.

Foto 3. Pemotretan dengan memakai lampu pengisi atau fill in flash, wajah dan bagian depan tubuh Teddy Rustandi terlihat dengan jelas.

Foto 4. Pemotretan tanpa lampu pengisi atau fill in flash wajah dan tubuh bagian depan Teddy Rustandi terlihat gelap.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sebaiknya lampu kilat yang dipakai hendaknya lampu kilat mandiri yang bisa dipakai manual maupun otomatis, bukan lampu kilat yang melekat di kamera. Karena lampu kilat yang mandiri pada umumnya GN-nya lebih besar dibanding GN lampu kilat bawaan yang menempel di kamera. Dan lagi lampu kilat bawaan yang ada di kamera tersebut bekerja dengan otomatis, bukan manual. Sehingga sewaktu pemotretan yang menantang cahaya, lampu kilat ini akan secara otomatis hanya mengeluarkan sedikit cahayanya, karena pengukur cahayanya dipengaruhi oleh kuatnya cahaya matahari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar