Sabtu, 07 Februari 2015

Menikmati Bangunan Tua di Semarang


Saat menunggu kereta api di stasiun Tawang Semarang, ketika akan kembali ke Jakarta Oktober lalu, saya merasa lapar. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, sementara kereta berangkat sekitar jam tujuh, saya mencoba mencari di sekitar stasiun Tawang, tapi saya tidak menemukan rumah makan Padang.

Saya lalu menanyakan kepada salah seorang petugas pelayanan kebersihan, di mana rumah makan Padang yang dekat dari stasiun. Dia lalu menyebutkan sebuah tempat. Pada saat bersamaan, seorang tukang becak yang cukup aktif mencari penumpang di sekitar stasiun, rupanya mendengar pembicaraan saya dengan petugas kebersihan itu. Dia lalu menawarkan diri untuk mengantarkan saya ke rumah makan Padang yang disebutkan petugas kebersihan tadi.




Setelah beberapa tahun tidak pernah naik becak, dan secara kebetulan terakhir kali saya naik becak juga di Semarang tahun 2012 lalu, saat mengikuti drive test Indosat berkeliling kota Semarang menjelang lebaran.

Sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang berembus, becak yang saya tumpangi membawa saya memasuki jalan yang cukup berliku, yang semakin lama semakin memasuki kawasan yang sepi dari deru lalu-lalangnya kendaraan bermotor. Begitu juga, kawasan yang saya lewati bersama tukang becak itu, semakin jauh semakin banyak melewati bangunan kuno peninggalan Belanda di kiri-kanan jalannya. Rupanya saya memang tengah melewati kawasan kota tua Semarang, bersama becak yang juga di kayuh pengemudi yang juga lebih tua dari saya.




Becak yang saya tumpangi berhenti di sebuah bangunan yang nampaknya belum begitu tua, dan bentuk bangunannya juga sudah tidak seperti banguan peninggalan Belanda yang kami lewati tadi. Wajah moderen berupa spanduk yang dibuat dengan tehnik digital printing, merusak wajah tempo dulu yang ada disekitar sana. Setelah membayar becak, saya lalu memasuki rumah makan yang di katakan rumah makan Padang itu.




Saat memasuki hingga sampai saya berada di dalam rumah makan Padang itu, hanya susunan pajangan yang di etalase yang juga kurang memenuhi syarat sebagai sebuah rumah makan Padang itu yang menandakan bahwa itu adalah warung yang menjual nasi dengan masakan Padang. Saya tidak bisa menyebutnya sebagai sebuah rumah makan Padang, karena tampilannya yang apa adanya, tanpa mencirikan sebuah rumah makan Padang.

Walau dengan sedikit rasa kecewa, tapi karena perut keroncongan saya tetap memesan makanan yang akan saya nikmati, toh saya kan bukan membeli rumah makannya, tapi hidangannya.




Selesai makan dan membayarnya, saya tidak langsung mencari becak, tapi saya berjalan kaki menelusuru Kota Tua Semarang itu. Menikmati pemandangan berupa bangunan tua peninggalan penjajah Belanda dengan arsitekturnya yang khas, dan mengabadikannya dengan kamera saya.

Keasyikan saya memotret bangunan tua dan mungkin mengandung sejarah itu, terganggu oleh banyaknya tempelan-tempelan poster iklan di pintu, di dinding maupun di tiang gedung-gedung yang saya lewati itu, juga pada sebuah tugu yang berdiri di tengah jalan. Sehingga wajah kuno dan antik rumah-rumah tersebut menjadi tercemar dengan benda moderen yang terpajang di bangunan itu.





2 komentar: