Rabu, 25 Februari 2015

Saya Dipaksa Pindah Agama!






Bagi mereka yang fanatik pada sebuah merek, akan selalu membeli merek yang sama setiap akan membeli barang kebutuhannya. Apakah itu mobil, pakaian, sepeda motor atau perlengkapan lainnya.

Begitu juga bagi para fotografer. Mereka yang fanatik dengan satu merek, akan mengatakan kamera dengan merek yang mereka pakailah yang terbaik, lalu menganggap merek yang lain kurang bagus. Misalnya mereka yang fanatik dengan Nikon, pasti akan selalu membeli Nikon sebagai peralatan fotografi andalannya, karena itulah merek terbaik menurut dia. Mereka pun akan menyebutkan segala macam kelebihan dari kamera Nikon yang mereka miliki, yang tidak dipunyai oleh merek lain yang bersaingan dengan merek kamera yang mereka pakai.

Bagi mereka yang fanatik dengan Canon, juga akan mengatakan, Canon adalah merek terbaik dibanding merek lain. Mereka pun akan senantiasa memakai kamera Canon sebagai senjata andalannya. Lalu juga akan menyebutkan segala macam keunggulan dari merek kamera yang mereka punyai, yang tidak dimiliki oleh kamera saingan mereka.

Bagi mereka yang fanatik tersebut, merek sudah seakan menjadi "agama" mereka, dan mereka tidak akan pernah beralih untuk memakai merek lain saingan dari merek yang mereka pakai.

Dua merek yang paling bersaing dalam dunia fotografi yang masing-masing keunggulannya sudah diakui dunia adalah Canon dan Nikon. Cara paling mudah dalam melihat persaingan tersebut adalah pada acara olah raga, seperti misalnya final sepak bola tingkat dunia. Kita akan menyaksikan para wartawan foto dengan kamera andalannya masing-masing, berjejer di sepanjang garis kiper dan pinggir lapangan, dengan merek kamera yang terpampang jelas di badan lensa tele yang mereka pakai.

Saya sendiri, awal membeli kamera di tahun 1979, belum membeli salah satu diantara kedua merek tersebut. Bukan karena belum tahu dengan mereknya, tapi saat itu saya tergiur dengan sebuah iklan sebuah kamera yang menjual kamera SLR, dengan hadiah satu kamera kompak. Hehehe dasar otak gratisan.

Tahun berikutnya baru saya membeli sebuah kamera lagi merek Nikon FE white body. Sebuah kamera bekas yang di tawarkan teman fotografer di Pasar Baru. Kamera tersebut saya pakai untuk pemotretan di studio maupun untuk acara lainnya.

Karena kebutuhan semakin meningkat, agar tidak terjadi kekosongan di studio bila saya dapat panggilan foto keluar, saya membeli sebuah kamera lagi, masih kamera bekas dan juga merek Nikon FE tapi yang black body. Jadi bila ada panggilan pemotretan pengantin atau acara lainnya, studio masih bisa menerima pelanggan yang ingin difoto.

Karena panggilan keluar semakin sering, dan acaranya tidak mungkin hanya diliput dengan satu kamera. Maka saya lalu membeli satu kamera lagi. Kali ini saya membeli kamera baru, tapi masih dengan merek yang sama, Nikon FM2 berikut sebuah lensa zoom 28-70 mm. Kenapa pilihan saya masih Nikon, apakah saya juga sudah jadi fanatikus Nikon? Tidak, ini hanya soal kepraktisan saja. Dengan kamera merek yang sama, saya lebih mudah menukar pakai lensa yang saya punyai sesuai kebutuhan.

Di saat kamera digital mulai mendesak kamera konvensional yang memakai film seluloid, saya juga mulai merasakan kebutuhan akan kamera DSLR itu. Persaingan sesama fotografer dalam mengabadikan suatu acara, membuat para fotografer yang masih memakai kamera konvensional mulai mati angin. Karena pelanggan juga sudah mulai melirik para fotografer yang memakai kamera digital.

Akhir 2005, beruntung saya mendapatkan sponsor yang membelikan saya kamera DSLR, dan kembali kamera yang dibelikan oleh dia juga Nikon. Nikon seri D50. Kamera inilah yang saya bawa kemana-mana, termasuk dalam mengikuti atau meliput acara blogger, seperti Kompasiana, Detik atau komunitas yang saya menjadi anggotanya.

Aktifitas saya sebagai anggota admin Blogger Reporter Indonesia (BRID) 3 tahun yang lalu, membuat kamera Nikon saya bekerja lebih keras, tapi saya menikmatinya. Alhamdulillah, aktifitas yang tak mengenal lelah itu, akhirnya berbuah manis. Saya memenangkan lomba foto dengan tema "Musium Di Hatiku" yang diadakan oleh Taman Mini Indonesia yang bekerjasama dan disponsori oleh Indosat. Hadiah yang saya dapatkan saat itu adalah sebuah kamera DSLR merek Canon 1100D.

Lebih 30 tahun setiap hari memakai kamera Nikon, termasuk 7 tahun memakai kamera DSLR juga dengan merek yang sama, sehingga saya oleh teman-teman fotografer menyebut "agama" saya Nikon. Kini dengan dapatnya hadiah kamera DSLR merek Canon ini, seakan saya dipaksa untuk pindah "agama" dari Nikon ke Canon!

Apakah saya merasa canggung dengan "agama" baru saya ini? Tidak juga, karena saya memang tidak pernah fanatik dengan satu merek. Saya pun tahu, merek Canon ini juga merek yang terkenal di dunia karena mutu produknya. Saya pun tak perlu belajar lama dalam mengoperasikannya.

Bagaimana dengan Anda?






Minggu, 08 Februari 2015

Gelombang Dahsyat di Jalanan Jakarta

Bagi setiap penumpang bus Transjakarta, mungkin setiap goncangan yang terjadi saat bus melewati jalan rusak tidak terlalu dirasakan atau diperhatikan. Tapi bagaimana kalau itu diabadaikan dalam video? silakan Anda simak videonya.



Sabtu, 07 Februari 2015

Menikmati Bangunan Tua di Semarang


Saat menunggu kereta api di stasiun Tawang Semarang, ketika akan kembali ke Jakarta Oktober lalu, saya merasa lapar. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, sementara kereta berangkat sekitar jam tujuh, saya mencoba mencari di sekitar stasiun Tawang, tapi saya tidak menemukan rumah makan Padang.

Saya lalu menanyakan kepada salah seorang petugas pelayanan kebersihan, di mana rumah makan Padang yang dekat dari stasiun. Dia lalu menyebutkan sebuah tempat. Pada saat bersamaan, seorang tukang becak yang cukup aktif mencari penumpang di sekitar stasiun, rupanya mendengar pembicaraan saya dengan petugas kebersihan itu. Dia lalu menawarkan diri untuk mengantarkan saya ke rumah makan Padang yang disebutkan petugas kebersihan tadi.




Setelah beberapa tahun tidak pernah naik becak, dan secara kebetulan terakhir kali saya naik becak juga di Semarang tahun 2012 lalu, saat mengikuti drive test Indosat berkeliling kota Semarang menjelang lebaran.

Sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang berembus, becak yang saya tumpangi membawa saya memasuki jalan yang cukup berliku, yang semakin lama semakin memasuki kawasan yang sepi dari deru lalu-lalangnya kendaraan bermotor. Begitu juga, kawasan yang saya lewati bersama tukang becak itu, semakin jauh semakin banyak melewati bangunan kuno peninggalan Belanda di kiri-kanan jalannya. Rupanya saya memang tengah melewati kawasan kota tua Semarang, bersama becak yang juga di kayuh pengemudi yang juga lebih tua dari saya.




Becak yang saya tumpangi berhenti di sebuah bangunan yang nampaknya belum begitu tua, dan bentuk bangunannya juga sudah tidak seperti banguan peninggalan Belanda yang kami lewati tadi. Wajah moderen berupa spanduk yang dibuat dengan tehnik digital printing, merusak wajah tempo dulu yang ada disekitar sana. Setelah membayar becak, saya lalu memasuki rumah makan yang di katakan rumah makan Padang itu.




Saat memasuki hingga sampai saya berada di dalam rumah makan Padang itu, hanya susunan pajangan yang di etalase yang juga kurang memenuhi syarat sebagai sebuah rumah makan Padang itu yang menandakan bahwa itu adalah warung yang menjual nasi dengan masakan Padang. Saya tidak bisa menyebutnya sebagai sebuah rumah makan Padang, karena tampilannya yang apa adanya, tanpa mencirikan sebuah rumah makan Padang.

Walau dengan sedikit rasa kecewa, tapi karena perut keroncongan saya tetap memesan makanan yang akan saya nikmati, toh saya kan bukan membeli rumah makannya, tapi hidangannya.




Selesai makan dan membayarnya, saya tidak langsung mencari becak, tapi saya berjalan kaki menelusuru Kota Tua Semarang itu. Menikmati pemandangan berupa bangunan tua peninggalan penjajah Belanda dengan arsitekturnya yang khas, dan mengabadikannya dengan kamera saya.

Keasyikan saya memotret bangunan tua dan mungkin mengandung sejarah itu, terganggu oleh banyaknya tempelan-tempelan poster iklan di pintu, di dinding maupun di tiang gedung-gedung yang saya lewati itu, juga pada sebuah tugu yang berdiri di tengah jalan. Sehingga wajah kuno dan antik rumah-rumah tersebut menjadi tercemar dengan benda moderen yang terpajang di bangunan itu.